fragmen - daun-daun gugur
Siang dengan daun-daun gugur. Taman kota seperti Central Park sebelum musim semi tiba. Aku memang belum pernah kesana, tapi begitulah yang aku tangkap dari buku dan layar kaca. Hanya saja di sini daun meranggas sepanjang tahun. Sepanjang usia. Jakarta terlalu panas, sesaknya membuat daun-daun itu mati sebelum saatnya.
Siang dengan daun-daun gugur. Pukul dua aku masih tak beranjak dari bangku ini. Sambil menjilati sisa ice cream, makan siangku. Hatiku masih panas, jakarta tak mau berdamai.
Sebetulnya mungkin lebih nyaman kalau aku menanggalkan blazer dan membiarkan kulitku dibakar siang. Tapi Jakarta tak bisa diam melihat perempuan ber-tank top di tengah taman. Mata-mata liar itu. Tak bisa membiarkan panas hatiku membakar daun-daun kering.
Sepanjang meeting pagi tadi, gelisahku bagai disulut bara. Kami, perempuan, seperti disahkan menjadi warga kelas dua. Buah dada lebih penting dari isi kepala. Setelah sekian tahun aku baru sadar bahwa company ini begitu picik: masih memberi harga pada lekuk-lekuk tubuh. Atau memang semua lelaki berpikiran seperti itu?
Aku bukan seorang feminis. Apapun definisinya. Belum.
Aku hanya gerah dengan cara berpikir laki-laki. Rasionalitas yang bullshit ketika dihadapkan dengan pinggul dan dada. Cara berpikir yang semena-mena menelanjangi tubuh kami. Tak penting apakah semua laki-laki demikian atau tidak. Sudah cukup orang-orang yang kupercaya, orang-orang yang kusandari selama ini, ternyata sama piciknya.
Pukul dua lima belas menit. Masih di tengah taman kota. Mencari tissue basah di saku blazer (untungnya sekarang ada kemasan sachet). Membersihkan sisa-sisa ice cream di bibir. Sial, Lancome lip gloss-ku ketinggalan di meja.
Dedaunan masih jatuh meski angin mati. Daun gugur karena panas jakarta, sesaknya membuat mereka mati sebelum saatnya. Sesak yang juga menghimpit kami. Aku ingin lepas. Tak mau seperti daun-daun gugur itu.
Aku bukan feminis. Belum. Aku tak mau frontal. Barangkali dengan mencoba mengerti jalan pikiran laki-laki akan kutemukan jawabnya. Mengapa tidak? Bisa saja kucoba, berpikir dan bertindak seperti lelaki. Memperlakukan orang dengan cara mereka. Memperlakukan laki-laki sebagaimana sikap mereka terhadap perempuan. Mengapa tidak? Aku bisa mencoba, membebaskan pikiranku untuk semena-mena menelanjangi kebusukan mereka, melecehkan ego.
Hatiku makin panas. Jakarta tak mau berdamai.
August 11th, 2007 at 2:19 pm
Lumayan cerita na …
Lebih bermutu dari sebelum na …
Ada sambungan na lagi gak?
Or cuma segini aja ? …
August 12th, 2007 at 1:02 am
Yup, itu masih berkaitan sama cerita yang ini
Pasti masih ada sambungannya, tunggu aja
August 12th, 2007 at 1:21 am
cool, I’m speechless…
gw emang bukan ahli bahasa/sastra/sejenisnya, but I really enjoy your style. we should really make a movie someday (^_^)
August 12th, 2007 at 1:23 am
satu lagi kelupaan… akan jadi sempurna kalo gw bisa gak ngebayangin elu yg nulis fragmen ini, soalnya gw jadi kebayang tampang lu sebagai aktor dalam fragmen ini…
hyak hyak hyak
August 12th, 2007 at 10:48 am
@kocu
Hehe.. thanks
Jadi lu ngebayangin gue pake tank top trus makan es krim??? Ugh!
August 17th, 2007 at 8:34 am
:)
bagus bagus…
gak sangka si chen..
tapi pantes sih kalo dulunya pas kuliah dia maen theater.
kapan-kapan pentas solo aja
ajakin si kocu tuh.. jadi apanya keq… hahahahahaha