hujan deras, banjir, dan hidup itu indah
Saturday, February 3rd, 2007Setelah semalam penuh dan sepagian hujan deras, Jakarta banjir total. Di beberapa tempat, ketinggian air yang meluap mencatat rekor baru, lebih dari banjir besar tahun 2002.
Jadi teringat saat 2004 lalu, saat aku masih tinggal di sebuah rumah kos di daerah kalibata, bantaran sungai ciliwung. Aku beberapa hari nggak masuk kantor. Lewat telepon teman bertanya kenapa, kujawab banjir setinggi mata kaki. “Banjir setinggi mata kaki saja kok sampai tidak masuk kantor”, temanku bertanya. Karena semata kakinya di lantai dua
Sementara kamarku di lantai satu sudah tenggelam total
Praktis beberapa hari tak bisa keluar rumah.
Pagi ini aku bangun seperti biasa. Hujan deras. Sedikit terlambat untuk berangkat kantor, tak apalah ada excuse hujan. Sampai dijalan ternyata ada yang tidak biasa. Tampak genangan air di beberapa tempat. Lewat kampung melayu, wah ternyata banyak rumah warga tergenang. Sampai tebet arah casablanca jalanan terendam total setinggi lebih dari paha! Sekitar 150 meter panjang genangan. Banyak mobil putar balik. Sopir angkotku dengan gagah berani menerjang banjir. Aku asik foto-foto suasana banjir sampai suatu detik aku menyadari banjir terlalu tinggi dan sang sopir sedang berusaha keras agar mobil tetap melaju. Aku jadi tertegun dan sedikit panik. Kalau sampai mogok di tengah banjir setinggi ini…..
Syukurlah sampai di seberang dengan selamat. Angkot lain di depanku menghembuskan nafas terakhirnya tepat setelah melewati jalan yang terendam. Masih untung dia.
Di kantor banyak yang terlambat. Banyak juga yang tidak hadir. Gedung WTC jauh lebih sepi dari biasanya. Malah banyak mobil yang keluar (mungkin beberapa kantor lain diliburkan?).
Sore hari pulang. Sudirman arah blok m macet total. Busway tak beroperasi. Rupanya Benhil-Atmajaya terendam sepaha juga. Semakin sore semakin dalam katanya. Mau lewat Casablanca macet total, angkot praktis tak ada atau terlalu penuh. Jalan kaki ke Semanggi, untung jalur Busway yang arah Kota kering. Bah, Gatot Subroto juga macet total.
Makan, nongkrong di cafe sambil baca buku. Berharap lalu lintas makin lancar. Menunggu.
Pukul sembilan lebih kembali ke jalan. Taksi hampir tak ada. Kemacetan masih hampir sama. Kerumunan orang menunggu kendaraan umum. Bus kota sangat sangat jarang dan selalu penuh luar biasa. Kutanya seseorang, sudah satu jam menunggu, katanya. Rumahnya di Bekasi. Gila. Suasana seperti di terminal saat musim mudik.
Sedikit taksi yang lewat hanya mau mengantar ke tujuan-tujuan tertentu. Sedikit mobil pribadi menawarkan tumpangan. Ada truk polisi menawarkan tumpangan, tapi cuma sampai Mampang. Di tol Gatot Subroto bahkan ada (beberapa) mobil putar balik!! Ya, melawan arah. Balik ke arah Grogol, padahal itu jalur ke arah Cawang. Habis, jelas didepan mata kerumunan kendaraan berhenti total, dibelakang masih kosong.
Sambil mengobrol, sekitar 45 menit menunggu, ada bis, aku naik. Tak sepenuh sebelumnya. Bis tak lewat tol, jalanan lebih lancar. Hanya sedikit macet di pancoran. Sampai rumah dengan selamat.
Saat di dalam bis aku tiba-tiba berpikir, betapa mudahnya hidupku. Orang yang tadi kuajak ngobrol sudah kena basah setinggi perut dan kering lagi dua kali dalam sehari ini, saat berangkat kantor, dan saat pulang. Aku juga naik kendaraan umum, juga lewat daerah banjir berat, tapi aku kering, selamat, aman-aman saja seperti hari-hari biasa. Masih sempat nongkrong pula di Semanggi sambil ngopi. Tidak terburu-buru pulang, tidak pusing mikir gimana caranya pulang. Everything just happen in the easy way and I am safe.
Bukan, jangan pikir hidupku benar-benar mudah dalam arti harafiah. Hidupku sama seperti hidup orang lain. Hidup yang naik turun, yang kadang sempit dan kadang luas. Yang sakit, yang sedih, yang harus bekerja keras, yang gagal, yang terkucil dan terasing, yang menangis. Tapi entah kenapa aku selalu berpikir hidup ini mudah. Mungkin lebih mudah kau pahami kalau kukatakan hidup ini indah. Bagiku artinya hampir sama. Ya, hidup ini indah, dan karenanya jadi mudah, selama aku bisa memandang keindahan itu sebagai hal yang tidak mempersulit diriku.
Thanks God, for everything. Even though I believe you in different way than most people do.
