X
T r a s h :: l o g BETA
{ Chen Hendrawan }
chenz v.A-01 chenz v.T23s chenz v.X0-KZ

Archive for January, 2007

(tidak ada) interface vs abstract class

Friday, January 26th, 2007

Endy Muhardin menjawab pertanyaan seseorang mengenai bagaimana kita menentukan kapan saatnya menggunakan interface ataukah abstract class.

Dalam sedikit hal saya kurang sepaham, mestinya penjelasan bisa lebih sederhana tanpa perlu menyinggung tentang pattern, karena belum tentu pembaca paham pattern. Dan memang tak perlu paham design pattern untuk memahami perbedaan interface & abstract class.

Saya sendiri menggunakan interface jika ingin class saya dikenal oleh class-class lain, terutama (tak selalu) jika berbeda package / namespace. Interface sesuai namanya berguna untuk menjadi antarmuka atau kontrak antara satu kelas dengan kelas lain. Bahwa class yang mengimplementasikan interface tersebut memiliki method-method tertentu. Contohnya interface java.util.Collection, orang cukup tahu bahwa class-class yang implement interface tersebut akan memiliki method-method seperti add(), remove(), iterator(), dsb.

Menurut saya, jangan pernah membandingkan interface dengan abstract class. Selalu gunakan interface! Selalu gunakan interface untuk memperkenalkan method-method apa saja yang akan diekspos oleh sebuah class. Pikiran mengenai interface ada saat tahap design.

Baru saat implementasi, kita boleh berpikir apakah class-class tersebut akan kita buat abstract atau concrete. Apakah sebuah method punya implementasi yang generik ataukah bahkan belum bisa didefinisikan (abstract) sampai kita beranjak ke hal yang lebih detail implementasi method tersebut pada suatu kasus tertentu (concrete subclass).

Dengan begini, kita nggak perlu bingung toh kapan harus membuat interface atau abstract class :D .

Bagi penganut test-first development, pemahaman seperti ini juga lebih mudah. Pertama buat saja semua interface (dan mungkin dummy factory), kemudian buat test-nya, jadi test kita nggak error saat dicompile. Baru buat implementasinya.

situs berita yang lebih baik

Sunday, January 21st, 2007

Detik.com akhir-akhir ini makin kacau saja. Pertama, kualitas jurnalistik kopi-pes. Sering kali detik.com hanya mengambil informasi dari situs asing tanpa mempedulikan kebenaran beritanya. Contohnya yang baru-baru terjadi kemarin, detik menayangkan berita mengenai virus organik yang dapat menyerang Windows Vista. Berita ini berasal dari sebuah situs asing yang mana jelas-jelas mencantumkan tulisan bahwa situs tersebut hanyalah kumpulan tulisan iseng yang mestinya dianggap sebagai joke. Sering pula aku merasa bahwa beberapa berita di detik mencomot rumor-rumor yang beredar dari email-email junk yang sering diforward kesana kemari. Penayangan berita yang kadang asal publish, kalo salah tinggal dihapus belakangan. Hah.

Terlepas dari itu, kebijakan menghapus berita menurutku adalah hal yang nggak bisa ditolerir. Menggangu akuntabilitas publik terhadap detik.com. Kalaupun ada kesalahan berita kan ada mekanisme ralat, ikuti saja kaidah jurnalisme yang umum.

Kemudian layout situs yang terlihat semakin serakah. Saya bilang serakah karena sepertinya tak ada media berita lain yang iklannya seamburadul ini. Sekalipun banyak kalau ditata dengan rapi mestinya nggak akan terlalu mengganggu. Ide dari mana pula bikin banner yang kalau mouse-over bisa nutupin berita. Ide darimana bikin headline yang link nya menuju ke detikportal yang mana harus bayar.

Masih ada lagi hal yang kacau, yaitu skalabilitas aplikasinya. Sepertinya orang-orang di detik nggak memperkirakan bahwa hit mereka akan menjadi sebegitu besar. Dengan jumlah konten yang makin banyak tentu kehandalan hardware dan softwarenya sendiri harus terus dijaga. Kenyataannya server detik mulai banyak error, meskipun nggak sering tapi untuk ukuran situs berita yang menyajikan berita terbaru setiap detik, tentu saja reliabilitas lebih adalah sebuah keharusan.

Mm.. cape deh :-| Barusan ada berita di detiknews, “Sebuah Kotak Diduga Black Box AdamAir Ditemukan di Majene”, ketika di klik detail beritanya kosong :o Apa masyarakat cuman disuguhi judul saja??? Kalau berita belum layak publish kenapa harus terburu-buru dipublish?? Setidaknya kasih deh keterangan, misalnya “Sampai saat ini belum dapat diverifikasi, apakah temuan tersebut benar-benar Black Box Adam Air atau bukan. Komandan Lanud Hassanuddin yang kami hubungi.. dst,dst..”. Parahnya, beberapa menit kemudian ada berita dengan judul “Roy Suryo: Saya Sangsi Benda Itu Black Box AdamAir”, ketika di klik, kosong melompong pula isinya. Hah!! Ngapain pula seleb ini ikut-ikutan ngasih komentar nggak perlu seperti ini, mbok dijelasin kek kenapa sangsi, kenapa nggak mungkin benda itu black box. Pembaca berita kan ingin tahu. 5W 1H! Bukan sekedar “What??” dengan tanda tanya besar setelah baca berita itu.

Saya nggak ingin mendiskreditkan detik.com atau siapa-siapa. Setelah muak dengan televisi yang penuh sinetron, umumnya masyarakat menengah keatas lebih tertarik mendapatkan informasi dari internet. Kalau semua media semakin dijejali kepentingan nyari duit yang norak kaya gini, dari mana lagi kita bisa dapat barang berkualitas? Ingat, setiap klik yang kita buat itu menambah kaya detik.com secara langsung. Wajar dong kalau kita menuntut kualitas.

Aku pingin berkata: “Mari (TIDAK) membaca detik”. Tapi apa ada alternatif? :(

potret negri

Saturday, January 20th, 2007

Melihat potret negriku, rasanya pingin nangis. Aku jadi fatalistik dan skeptik. Membaca newspaper, selalu ada ketidakbenaran di mana-mana. Etika etika etika. Etos. Manusia indonesia punya apa sih dalam diri mereka? Ada kesalahan genetik di dalam kepala?

Jarang ada cerita happy ending dalam setiap kasus yang kita baca di koran. Lebih jarang lagi yang “right ending”. Busuk busuk. Semuanya seperti tumpukan sampah.

Aku punya hak untuk hidup di lingkungan yang baik, yang benar. Semua orang juga.