X
T r a s h :: l o g BETA
{ Chen Hendrawan }
chenz v.A-01 chenz v.T23s chenz v.X0-KZ

kenapa lama nggak update blog

December 31st, 2007

Bukan karena ikutan Writer’s Strike kalau gue lama nggak ngeblog. Sebetulnya gue lagi sibuk! Halah alesan klasik banget :D Cari alesan lain deh…

Gue lagi banyak jalan-jalan. Awal dan pertengahan Desember kemaren gue jalan-jalan mulu. Habis cuti jalan-jalan, eh sama kantor disuruh jalan-jalan lagi ke Bali. Heheh… indahnya.

Seharusnya sih banyak jalan banyak posting blog. Niatnya sih begitu: jalan seharian, malemnya diposting ke blog. Kamera dan laptop udah siap. Tapi ternyata maen itu lebih cape daripada kerja :D Habis seharian maen, sampe hotel udah cape banget, langsung tidur deh soalnya besoknya mesti maen lagi pagi-pagi. (Duh maen aja lebih niat daripada kerja :D )

Sejak jalan-jalan itu kegiatan dunia maya gue jadi nggak lancar. Mulai dari melayani milis-milis nggak jelas, blog & news feed yang seabrek di Google Reader gue, sampai urusan update blog, semua terbengkalai. Ritme internetan gue kok jadi berubah, masih kebawa-bawa suasana liburan sampe sekarang. (Ritme kerja juga berubah sih, but I don’t really care, xixixixi… :D ) Nah semoga dengan posting blog ini gw bisa kembali ke jalan yang benar: menjadi kutu komputer kembali :p

Selamat tahun baru 2008, bagi yang merayakan.

leopard biggest mistake

November 2nd, 2007

For one who didn’t know what the hell Leopard is, I would like to give some introduction. Leopard is the world greatest desktop operating system, thats all. It developed by a company that also create the world greatest phone and media player.

I said thats all. I won’t explain more about Leopard features as you can easily follow my previous link or doing a Google search. What I really want to say is about the biggest silly mistake Leopard had that unfortunately located in it’s biggest killer feature. Yes, Time Machine.

Time Machine

With Time Machine, backing up your entire system is simply plugging external hard drive. No need regular task that you must do manually, no pain. Plug and forget. Restoring the backup is even more fun. You can search and browse the backup database. You’ll see a stacked Finder windows, each window represent each backup snapshot. You can go back and forward across the stack time, find which file you want to restore, and then… No you don’t have to restore it, you can simply preview it!

Seems perfect. But not internally. Long story short, Time Machine does NOT store the incremental changes of an altered file but the each version of the files instead. It means a small changes in a big file will easily fill up your backup drive. Even changes in small file can also waste space if happen frequently.

Thats not what we expect. I, and many programmers here, expect something more like Subversion which we used to employ for tracking changes, reviewing, and backing up our work. We expect filesystem that behaves like a version control and great front end for that. Apple only did the second part.

I think I’m not exaggerating if I say that Leopard biggest mistake is by not using ZFS as the default filesystem but only supporting it as read only filesystem. Why Apple, why…?

iPod Sad Image

bagaimana berbuat untuk orang lain ?

October 31st, 2007

Sering kali kita tenggelam dalam kehidupan pribadi kita, bekerja keras mengejar mimpi pribadi, dan menjadi lupa dengan orang lain. Entah yang kita lupakan adalah orang-orang terdekat kita, orang yang kita sayang, masyarakat di sekitar kita, atau bahkan dalam lingkup yang lebih luas negara yang kita tinggali.

Lupa yang saya maksud di sini bukan sekedar lupa dalam pikiran, akan tetapi tindakan-tindakan yang kita lakukan tidak lagi berarti bagi orang-orang tersebut. Mungkin dalam pikiran kita ingat dengan saudara kita, ingat teman yang sedang kesulitan, ingat dengan anak jalanan di perempatan yang baru kita lalui, ingat dengan kondisi bangsa yang carut marut. Namun jika keseharian kita tidak memberi arti lebih bagi mereka, itu sama saja kita lupa.

Lalu apakah salah jika kita lupa? Tidak perlu saya jawab. Masing-masing orang punya cara pandang sendiri tentang arti hidup yang dia lalui. Saya tidak perlu dan tidak ingin menyalahkan.

Saya pribadi sedih setiap terbangun dari kelupaan saya. Sedih karena ternyata porsi kelupaan, ketidakpedulian saya lebih besar dibanding apa yang sudah saya lakukan. Sering kali banyak hal remeh temeh pribadi menjadi excuse untuk tidak berbuat lebih banyak bagi orang lain. Tidak ada waktu lah, sibuk dengan pekerjaan lah, sedang dalam perjalanan, tidak punya uang, sedang menabung untuk nikah, karena hujan deras, karena belum sarapan, sedang asyik jalan-jalan, dan sederet alasan lain yang sebetulnya remeh temeh. Remeh temeh jika dibandingkan dengan kesulitan orang-orang lain yang anda temui setiap hari di jalan, di kantor, di sekolah, di masjid, lokalisasi, rumah, kereta api, di mana saja.

Teringat kata-kata seorang teman, “Setiap orang punya masalah. Masalahnya, semua menganggap masalah mereka yang paling berat.” Dari premis tersebut saya mencoba memandang diri sendiri sebagai orang yang tak punya masalah, karena toh kesulitan orang lain sama atau lebih berat, tergantung siapa yang melihat. Ketika kita bisa memposisikan diri sebagai orang yang tidak punya masalah, atau setidaknya berhasil menganggapnya remeh temeh, maka terlihat jelas begitu banyak di luar sana yang membutuhkan sesuatu dari kita, entah itu dalam bentuk materi ataupun bukan.

Kenyataan yang terbuka itu sering menyakitkan saya. Bukan lagi karena saya lupa, tapi karena saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Apa yang bisa saya beri, apa yang bisa saya perbuat, apa yang bisa menjadikan saya lebih berarti bagi orang lain. Untuk orang yang kita sayang, untuk orang yang bertemu kita di mana saja, untuk bangsa (!)

Saya tidak sedang mengajak pembaca semua untuk setuju dengan apa yang saya yakini. Sebagaimana agama, arti kehidupan anda layaknya sebuah keyakinan. Saya hanya minta saran, tolong kasih komentar, apa yang bisa saya lakukan untuk berbuat lebih? Please. Satu saran saja dari setiap pembaca. (Lebih dari satu juga lebih baik :D ) Saya mohon saran yang praktikal, bukan suara-suara langit yang berbicara ide dan norma. Sesuatu yang bisa langsung saya (dan anda) lakukan. Atau kita bersama-sama.

Please.